Sertifikasi Guru Gagal, Jangan Salahkan Guru

Dilema Sertifikasi

sertifikasi guru gagal

Banyak kalangan yang mengatakan bahwa program pemerintah untuk menambah penghasilan guru bagi yang telah memenuhi syarat yang di tetapkan oleh pemerintah, yaitu sertifikasi guru, sebuah penghargaan bagi guru yang katanya profesional, senior, dan memilki kemampuan lebih dari guru guru yang lain gagal

Setelah program tersebut berjalan, ternyata hal yang di harapkan tidak sesuai dengan yang terjadi di lapangan, banyak kendala yang dan hal hal yang tak di inginkan terjadi seperti yang paling urgen adalah mutu, kualitas anak didik tak bertambah, biasa biasa saja sama seperti sebelum guru di sertifikasi, penghasilan bertambah, tapi kualitas siswa tidak bertambah

" Salahkah guru sertifikasi?"

Sudut Pandang Lain


Membaca komentar Dirjen Dikdasmen bapak Hamid Muhammad

yang mengatakan bahwa uang negara yang terpakai untuk tunjangan sertifikasi guru tidak sebanding dengan prestasi siswa

Tunjangan Profesi Guru (TPG) tahun 2015 mencapai RP 78 triliun dan diantaranya 70 triliun untuk guru yang berstatus PNS dan sisanya sebesar 8 triliun untuk guru-guru swasta. Untuk tahun 2016 jumlah anggaran untuk TPG meningkat menjadi 84 triliun.

Mengapa Bapak menyalahkan Guru?

Sebelum kaum " Oemar Bakrie " di salahkan sebaiknya kita lihat dulu akar permasalahan tentang guru berkaitan dengan mutu atau kualitas guru di lihat dari peristiwa yang terjadi di lapangan


Pertama :

Kualitas guru Indonesia. Yang bertanggung jawab terhadap mutu, kualitas dan prestasi guru adalah pemerintah, apakah pendidikan keguruan, atau FKIP telah memberikan solusi untuk mamacu prestasi guru dalam mendidik siswa, apakah ilmu yang di berikan kepada calon guru telah full lahir dan batin untuk " mengolah manusia " yang sampai saat ini ilmu tentang manusia belum mencapai finish. manusia " menciptakan " manusia, adalah hal yang teramat sulit, tentu tidak sembarangan orang mampu melakukannya, perlu ilmu yang mumpuni dan kemampuan yang tinggi sehingga bisa berbuat seperti itu, Nabi Muhammad saja perlu waktu 23 tahun untuk mengerjakan hal itu, dan masih perlu di sambung lagi oleh para penerusnya ( Ulama )

Apakah pemerintah telah bekerja keras untuk menciptakan tenaga pendidik yang mumpuni, apakah perguruan tinggi pemerintah sudah betul betul menyiapkan ilmu yang super untuk calon guru?

Dan yang paling memprihatinkan adalah pendidikan jarak jauh yang di selenggarakan oleh pemerintah, coba kita bertanya kepada pemerintah, belajar sekali seminggu, itupun terkadang hanya dengan baca sendiri, temukan sendiri, tak hadirpun tak masalah, yang penting adalah ikut ujian. Belajar dengan tutor yang sebagian ilmunya hampir boleh di katakan belum saatnya untuk menjadi seorang tutor. Kemudian pemerintah berharap dari " pabrik " semacam itu akan lahir pendidik sejati yang akan menciptakan tenaga tenaga berkualitas?

Perlu di ketahui bahwa manusia adalah makhluk yang memilki 2 tubuh yaitu jasmani dan rohani, lahir dan batin. Dalam hal ini mempelajari manusia dari segi batiniah ( psikologi ) adalah hal yang paling urgen untuk menjadi seorang guru, apatah lagi guru SD, 
Sudahkah pemerintah memberikan pelatihan kepada guru tentang

" Siapakah manusia itu ? "

Jika guru saja tidak di beritahu dan di ajarkan tentang  " makhluk " yang akan di ajarnya, mana mungkin akan membuahkan hasil. 
Kita berharap ke depan pemerintah mulai memberikan pelatihan pelatihan kepada guru tentang anak didiknya, ilmu tentang manusia, mengenal anak didik, ilmu psikologi atau semacamnya yang saat ini masih minim bahkan boleh di katakan tidak ada. jika ada tentu hanya beberapa kali pertemuan di bangku perkuliahan, tentu hal itu tidak mencukupi

Kedua :

Adminstrasi, inilah yang membuat seseorang menjadi guru sertifikasi, jika tidak lengkap administrasinya maka tidak boleh menjadi guru profesional dan tunjangan tidak di terima. Maka berlelah lelah lah para guru menghabiskan waktu waktunya untuk mengurus administrasi, pikiran dan konsentrasinya full untuk administrasi, dan bukan untuk siswanya, tak ada dalam benaknya untuk bagaimana anak didik saya berprestasi, tetapi bagaimana supaya tunjangan sertifikasi saya keluar

Itu adalah mindset atau pola pikir yang tercipta gara gara program sertifikasi, dan hal itu pemerintah yang menginginkan. Jadi jangan salahkan guru jika hari harinya hanya untuk memikirkan lembaran lembaran kertas yang akan di ajukan ke Dinas Pendidikan untuk dapat menambah penghasilan, bukan untuk memikirkan perkembangan siswa siswanya. Walau di akui ada sebagian guru  yang sanggup untuk hal itu, tapi seberapalah jumlahnya, tidak semua guru memiliki karakter " malaikat " seperti itu.

Jadi saya berharap ke depan pemerintah mencari solusi lain untuk memperbaiki kinerja guru dan untuk menjalankan program sertifikasi, jangan sampai tugas pokoknya dalam mengajar dan mendidik siswanya terkuras untuk memikirkan dan mengurus administrasi yang memang sangat berat dan membebani para guru

Dengan mengurangi beban guru apalagi dalam hal administrasi insyaAllah akan mengalihkan perhatiannya kembali kepada siswanya hingga ucapan yang menyudutkan kaum guru tidak terdengar lagi

Wassalam


Previous
Next Post »