Uji Kompetensi Guru UKG 2015 - Cara Salah Menilai Seorang Guru

UKG 2015 Untuk Seluruh Guru

ukg cara salah menilai seorang guru


Pemerintah melalui Kemendikbud kembali akan melaksanakan uji kompetensi guru  ( UKG ) tahun 2015 untuk lebih kurang 3. 015.315 orang guru yang memiliki Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan ( NUPTK ), yang akan di langsungkan tanggal 9-27 November mendatang. Yang masing masing guru akan mendapatkan soal UKG 60 sampai 100 soal.

Uji kompetensi bermaksud untuk menilai kemampuan seorang guru, apakah orang tersebut pantas atau tidak untuk mendidik dan mengajar soerang manusia yang notebone sama dengan dirinya.
Jika pendidikan yang dimaksud adalah kemampuan menyampaikan materi pelajaran sesuai dengan yang tertulis dalam kurikulum yang telah tertuang sebagai RPP, Silabus dan bahan ajar tentu UKG yang akan dilaksanakan adalah sesuatu yang mesti dan sah sah saja, karena untuk menjadi seorang peyampai materi tentu harus mengerti dan paham dengan materi yang akan di sampaikannya.
Hasil UKG dapat menilai kemampuan seorang guru sesuai dengan bidangnya masing masing, tentu inilah yang akan menjadi acuan oleh pemerintah untuk memberikan " nilai " kepada seorang guru.


Betulkah hasil UKG dapat 100% memberikan gambaran kemampuan/kompetensi seorang guru?

Menurut para pakar kecerdasan ada 3 yaitu:

Kecerdasan Intelektual ( IQ )
Kecerdasan Emosional ( EQ )
Kecerdasan Spritual  ( SQ )

Masing masing anak memilki kecerdasan tersebut, namun ada yang menonjol salah satu diantaranya, atau dua mungkin juga ketiga tiganya ( ini jarang sekali ) dari kecerdasan tersebut. Inilah tugas seorang guru, melihat, meneliti dan memahami karakter anak, seorang guru harus bisa mengetahui kecerdasan apa yang menonjol pada anak didiknya. Gurulah yang bertanggungjawab untuk memberikan " Tempat keluar " bagi kecerdasan tersebut. Seorang guru di tuntut mampu untuk memahami sang anak sampai ke " Area terdalam " anak tersebut.

Dari ketiga bentuk kecerdasan tersebut semuanya sama penting, tidak ada yang melebihi salah satunya dari yang lain. Untuk menjadi seorang yang sukses seorang anak mesti memiliki ketiga kecerdasan tersebut, jika salah satunya tidak ada maka sang anak akan gagal dalam kancah kehidupannya. Kewajiban seorang gurulah untuk membimbing dan mengarahkan serta melatih siswa supaya ketiga bentuk kecerdasan tersebut dimilki dan di kuasai serta mempu dipraktekan oleh mereka dalam kehidupan nyata dalam lingkungan tempat tinggalnya

Memberikan soal soal, tugas, PR atau pelajaran lainya kepada anak adalah bentuk untuk melatih otak kiri sang anak atau mempertajam IQ sehingga anak akan menjadi pintar bisa memecahkan masalah yang bersifat logis matematik, fenomenal, dan itu nanti yang akan di bawanya ke dalam masyarakat.
Apakah itu cukup? Pintar dan intelek belumlah mencukupi untuk hidup dalam masyarakat, diperlukan kecerdasan lain yaitu kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.

Deretan soal soal dan bermacam pelajaran di sekolah tidaklah sanggup untuk membangkitkan atau mengoptimalkan EQ dan SQ anak, tapi dengan cara praktek dan contoh tauladan. Kualitas emosional, akhlak, keimanan dan pergaulan serta cara hidup, cara berbicara seorang guru sangat mempengaruhi tumbuh kembangnya EQ dan SQ anak didik di sekolah, sebab anak didik terutama siswa SD sangat mudah mencontoh dan meniru apa yang di perbuat gurunya.


Soal UKG dan Kompetensi Seorang Guru

Soal soal UKG yang akan dilaksanakan bulan November mendatang akan sedikit memberikan gambaran mengenai kemampuan atau kecerdasan intelektual guru, lalu kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual guru apakah tidak di nilai. Gurulah yang harus terlebih dahulu memiliki dan menguasai ketiga bentuk kecerdasan tersebut yang akan ditularkanya kepada anak didiknya, mengapa hanya satu bentuk kecerdasan saja yang di uji oleh pemerintah. Jika pemerintah betul betul ingin memprofesionalkan atau meningkatkan mutu pendidikan seharusnya kondisi mental kejiwaan dan keimanan ( spiritual ) seorang guru harus di nilai dan di uji juga.

Guru yang mampu menjawab keseluruhan soal UKG belum tentu memilki pergaulan dan tingkat emosional yang stabil, atau belum tentu juga melaksanakan ajaran agamanya dengan benar, jiwa spritualnya kosong, padahal inilah yang paling penting untuk dimilki seorang guru. Apalagi disaat sekarang di mana prilaku dan tingkah anak anak sekolah sedah melewati batas dan sudah tidak karu karuan lagi, contoh tauladan yang baik dan tingkat spritual yang tinggilah yang mampu menjawab persoalan persoalan anak sekolah zaman sekarang, jiwa jiwa yang bersih yang penuh dengan cahaya keimanan yang penuh kesabaran, akhlak yang terpuji dan tingkat pengendalian diri seorang guru yang matang yang mampu menjawab tantangan pendidikan saat ini, contoh lah yang di butuhkan bukan intelektualitas saja, pintar tapi tak bermoral percuma saja. Tapi kenapa hal ini tidak menjadi perhatian.

Apakah pemerintah berharap akan lahir generasi penerus yang berkualitas dari seorang gruru yang tidak bermoral dan kering dari nilai nilai spritual? Mengapa tidak di uji juga kompetensi emosional dan spritual guru? mampukah soal soal UKG memberikan gambaran utuh seorang guru yang wajib memilki kecerdasan IQ, EQ dan SQ, jawabannya tentu ada pada pemerintah, ada apa sebetulnya di balik UKG yang betul betul tidak cerdas dalam memberikan penilaian, hanya menilai dari satu sudut sedangkan sudut yang lain yang lebih penting di abaikan.

Kita berharap kedepan pemerintah bisa memberikan dan meluncurkan program untuk menilai kompetensi emosional dan spritual guru, dan juga kita berharap hasil UKG 2015 ini bukan hasil final dari penilaian terhadap layak dan tidak layaknya seseorang untuk di sebut sebagai guru.

Previous
Next Post »