Kebudayaan Khas Adat Nagari Tanjung Balit X Koto Diatas kab. Solok

Alek Batagak Gala Penghulu ( Malewakan Gala ):

kebudayaan khas nagari tanjung balit

Proses Pengangkatan Penghulu adalah usaha yang dilakukan dalam memilih dan memilah seorang pemimpin dalam kaum dan suku bahkan yang akan memikirkan bagaimana adat supaya jangan bagaikan bunyi pepatah adat, Jalan dialiah urang lalu, cupak dipapek rang manggaleh, lantak supadan diasak urang, maka baiyo-iyolah mancari kato sapakek nan baradiak bakakak, nan bamamak bakamanakan, serta  melibatkan urang sumando lah bulek di pangka baru baimbau pulo nan basuduik dicari kato nan sapakek(sepakat) rundiangan nan saiyo lah dapek kato sapakek, lai dak ado murai kabakicau kok bulek lai lah bisa di golongkan, pipiah lah bisa dilayangkan maka dicari hari nan bayiak katiko nan elok maka dipersiapkanlah segala sesuatu yang dibutuhlah.
Acara selanjutnya setelah sampai dihari yang ditentukan maka tibalah saatnya untuk Mangacau darah malapah dagiang yaitu menjamu sekalian Penghulu  yang ada dinagari dan juga ada beberapa undangan pejabat lainnya hal ini  disebut Malewakan Gala, kata malewakan yaitu maimbaukan ka nan banyak manyerakan ka nan rapek, artinya adalah bahwa seseorang yang secara resmi menurut adat telah dikukuhkan kepemimpinannya, Cupak alah diisi Limbago alah dituang Adat alah dipakai, kok duduak lah samo randah kok tagak lah samo tinggi.

Dalam hal pendirian Penghulu baru ada 9 (Sembilan) macam yaitu :
Mati Batungkek Budi ( yaitu Kulipah Tanah Tasirah sewaktu Penghulu yang asli meninggal dunia dilansungkan malewakan gala kepada kemenakan Penghulu yang meninggal dunia tersebut, yang disebut biriak-biriak turun kasamak, tibo disamak turun kahilaman, dari niniak turun kamamak, dari mamak turun kakamanakan kulipah tanah tasirah tersebut dilansungkan harus dipandam pakuburan kaum yang bersangkutan tidak bisa dipandam pakuburan kaum/suku lain).

Hiduik Bakarilahan ( yaitu seorang Penghulu yang telah uzur /tua kok bukik lah taraso tinggi kok lurah lah taraso dalam, maka gelar kepenghuluannya dikulipahkan kepada kemenakan).

Mangguntiang Siba Baju ( yaitu kambang taranak dirombak kandang, batambah anak kemenakan ditambah Penghulu baru, apabila anak kemenakan sudah berkembang biak dan sudah sepatutnya didirikan Penghulu , maka dicarilah kata mufakat dan didirikan seorang Penghulu baru namun yang bisa ditambah hanya Penghulu Andiko).

Aia Gadang Basibak ( Kalau ada silang sengketa yang susah mencari jalan damai maka boleh didirikan Penghulu baru tapi dilihat dari jumlah anak kemenakan dalam satu kaum tersebut ).

Hanyuik Siriah jo Gagangnyo ( yaitu datang suatu rombongan baru kedalam suatu nagari dan rombongan tersebut cukup dengan Penghulunya, maka boleh dikukuhkan dinagari yang bersangkutan ).
Mambangkik Batang Tarandam ( yaitu Penghulu atau gelar Penghulu yang tidak dipakai lagi tapi gelar tersebut adalah gelar pusaka turun temurun maka apabila memungkinkan boleh dihidupkan kembali yang disebut “ Mambangkik Batang Tarandam “ ).

Mangambang Nan Talipek ( yaitu apabila seorang Penghulu meninggal dunia dan untuk kulipah tanah tasirah tidak dapat kata sepakat maka gelar tersebut dilipat/ dilipek untuk sementara, setelah ada kata sepakat dikemudian hari baru dikukuhkan Penghulu pengganti yang meninggal tersebut ).

Manyiliah Ditangah Jalan ( yaitu seorang Penghulu yang tercemar / tacemo, mendapat malu dalam nagari, maka Penghulu tersebut harus diberhentikan dari jabatannya sebagai Penghulu dan diganti dengan yang baru )

Mambangun Nagari Baru ( yaitu apabila ada membangun nagari baru maka untuk sebagai pimpinan adat didirikan Penghulu baru )
  

Alek Turun Mandi
Adat turun mandi ini dilaksanakan, apabila lahir seorang anak baik laki-laki maupun perempuan dilaksanakan “adat turun mandi “ yang pelaksanaannya setelah sang anak berumur 3 sampai 7 hari atau lebih maka dilaksanakan acara adat turun mandi yang artinya anak tersebut baru dibolehkan dibawa mandi kesungai, dan ada beberapa perlengkapan yang harus disediakan antara lain:
a)         Sebelum turun dari rumah :
Kalansing yaitu daun siriah yang dikerucutkan. Dan Suluah
(kalau anaknya laki-laki suluahnya dibuat dari Kopiah buruak ayahnya kalau anaknya perempuan suluahnya dibuat dari salendang buruak   ibunya) kopiah atau salendang  tersebut dipilin-pilin dan dibakar lalu dibawa turun dari rumah bersama kalansing sambil menggendong anak (bayi) yang akan turun mandi tersebut oleh seorang Dukun beranak, setibanya didepan pintu suluah dan kalansing tersebut dibuang perjalanan menuju sungai dilanjutkan.
Dan ada alat-alat lain yaitu Dasun (bawang putih tunggal),Kunik dan Rumpuk soruk, dasun, kunik diotua (dirangkai seperti tasbih) dengan rumpuk soruk lalu dikalungkan kepegelangan tangan dan kaki ( Golang tangan dan kaki )

b)      Alat-alat yang dibawa mandi antara lain :
Botiah, Bubua, Paniaram,Kelapa,Tangguak,Cermin,Kemiri,Kunik,Sisir,Bedak Sabun dan Anduk, anak (bayi) tersebut tetap digendong oleh sang dukun bayi dan ibu anak tersebut beserta beberapa kaum ibu lainnya seperti induak bakonya, sebelum dimandikan ada beberapa hal perlu dilakukan seperti menyerakkan (menaburkan) batiah disungai tempat mandi tersebut, yang hakikinya adalah agar anak tersebut dikemudian hari berseri hidupnya seperti botiah yang ditabur diatas air.
Selanjutnya ada dua buah kelapa yang dihanyut-hanyutkan dan dinanti dengan tangguak diwaktu anak tersebut dimandikan ,dan itu hakikinya adalah supaya kelak anak tersebut selalu berguna dalam kehidupan dimasyarakat dan selalu berbuat baik untuk kepantingan umum sebagimana kelapa itu orang jarang yang tahu enaknya gulai atau masakan lain karena santan kelapa tapi orang jarang memuji kelapa yang mendapat sanjungan adalah sijuru masak dan  kemudian sesampai dirumah atau setelah bisa ditanam kelapa tersebut ditanam sebagai pengungat hari kalahiran anak tersebut,dan ada lagi dalam acara turun mandi itu yang disebut Ma-Ungak anak tersebut di-ungak dalam air yang hakikinya agar anak kelak setelah dewasa tabah dan tawakal dalam menghadapi tantangan hidup baik suka ataupun duka.
Setelah selesai lalu dibawa pulang dan yang menggendong membawa pulang ini adalah induak bakonya dengan memakai kain panjang yang dibawa bakonya tersebut ( dunsanak atau family dari ayah bayi itu ), dan sesampai dirumah sebelum naik terus kedapur lalu orang yang menggendong bayi menendang tungku, lalu diambil sedikit arang atau abu dari tungku tersebut dan dioleskan sedikit ke bibir bayi yang hikmahnya supaya anak tersebut kelak setelah besar tidak malas memasak didapaur.
Sesampai dirumah anak tersebut dipakaikan baju, bedung dan lain-lain dan dilanjutkan dengan acara manyuwok-an oleh seorang orang siak (alim ulama) alat-alat yang disuwok-an semua jamba yang ada dalam hidangan pada waktu itu seperti : nasi, sambal,gulai, tambah lado bulat,garam,bawang, madu dan pati santan serba sedikit lalu diaduk pokoknya seperti orang dewasa mau makan lalu disuwok-an  kepada bayi itu, setelah selesai anak makan dibuat kapur sirih dan dimakan oleh mamak dari anak tersebut (dunsanak dari ibunya). Sebelum disuwok-an ada lagi acaranya yaitu baasok alat-alatnya, Daun Lagundi,Daun Sicerek, Sarok Balai, Sarok Mansojik, Bulu Olang, alat tersebut digulung dengan daun pisang lalu dibakar pakai Kemenyan (kamoyan)
c)       Acara selanjutnya malopeh Dukun dan orang siak yang manyuwok-an.
Dukun : alat-alatnya :

Gulai ayam sakorek yang bercampur Cabodak
Sakunik dibungkus daun pisang.
Nasi dibungkus daun pisang
Beras satu sukat ( boreh sukek)
Uang sekemampuannya.

Orang Siak yang manyowok-an , alatnya sama dengan dukun tersebut diatas.

Selanjutnya dihari tersebut barulah menjamu undangan, adat turun mandi ini tidak seperti kenduri atau baralek, cara menjamu undangan siapa yang datang lansung dijamu setelah makan dan minum undangan tersebut akan pamit mintak pulang lalu undangan itu mendekati sibayi yang turun mandi tersebut dan memberi Uang sesuai kemampuannya, begitulah seterusnya sampai sore hari kalau undangan masih ada yang datang tetap dilayani.

Alek Maurak Tambun
Dicari hari nan baiak kutiko nan elok,di kumpulkan semua pakayuan untuk rumah yang dibutuhkan lalu kayu tersebut diureh oleh tukang tuo,selanjutnya tukang tuo tersebut memukul-mukul beberapa tiang (tonggak) yang tujuannya untuk mencari tonggak tuo,dengan perbandingan suara kayu tersebut maka dapatlah urutan tonggak tuo (tiang pertama)kedua,katiga dan seterusnya setelah tukang tuo tersebut memberi aba-aba setelah ada garis dan ukuran barulah orang yang banyak mulai mengerjakan memahat memotong membuat punco dan sebagainya sesuai petunjuk dari tukang tuo,dan pada acara urak tambun tersebut yaitu bersifat Gotong Royong tidak diupah hanya diberi makan dan minum.

Alek Batagak Rumah
Untuk selanjutnya di namakan alek Batagak rumah acara tersebut adalah setelah distel seluruh tiang (tonggak)  Rasuak, Tiang dinding, Poran dan lainnya oleh tukang kira-kira semuanya sudah bisa pekayuan tersebut didirikan, maka dilengkapilah segala peralatannya, ada tebu yang ditanam dipangkal tiang tengah ada pisang manis yang digantung dibubungan rumah setelah pekayuan tadi ditegakkan dan ada juga beberapa jimat yang ditulis dan dipahatkan pekayuan tertentu, dan pada acara batagak rumah ini juga sama dengan urak tambun sifatnya gotong royong hanya diberi makan dan minum tetapi setiap acara tersebut harus didarahkan ( memantai ayam)


ALEK HAKEKAH
Hakekah  yaitu dengan menyemblih satu ekor kambing untuk satu orang anak dan ada juga yang mengatakan dua ekor kambing untuk anak laki-laki  sedangkan pelaksanaannya ada yang  bersamaan dengan turun mandi dan ada yang dilaknakan dengan  kenduri-kenduri lain seperti, bado’a sudah manuai ( syukur nikmat) atau bado’a manyaratuih hari dan sebagainya, diwaktu itulah sebelum do’a atau amalan dilaksanakan dilapazkan niat dan nazar.
Hakekah menurut agama dasarnya adalah yang ber-arti sebagai berikut  “ anak tergadai diatas hakikahnya dan secara adat di Nagari Tanjung Balik yang selalu dilakukan adalah dijamu orang dan diadakan bado’a (kenduri), pada waktu acara bado’a tersebut diisi Bareh Sukek dan Siriah sakabek dua baleh lirik serta alat-alat lainnya beras sukat tersebut berasal dari Induak Bako anak tersebut yang diberikan kepada   dunsanak laki-laki yang sepesukuan  dari Bapak sang anak, yang bertujuan sebagai pemberitahuan sayang ibu kepada anak dan juga pemberitahuan menurut adat bahwa anak kemenakan yang berumah tangga ke kampung itu sudah mempunyai seorang anak, dan bagi induak bako sang anak banyak juga yang melaksanakan Japuik anak yaitu anak tersebut dijemput kerumah ibunya dibawa kerumah bakonya kemudian diarak dengan membawa beberapa pembawaan, seperti bibit-bibit tanaman tua, makan-makanan dan lain-lain.

KEMATIAN
Tingkat Kesosialan masyarakat Nagari Tanjung Balik masih tinggi karena bak andai orang tua-tua niniak urang kamati niniak awak kamati jadi kok dak diliek urang, awak dak kadiliek urang pulo.
Apabila ada salah seorang masyarakat yang meninggal dunia seluruh kaum famili dan masyarakat sampai menyampaikan di Jorong dibunyikan Tontong dan di Masjit diumumkan lalu berbondong-bondong datang kerumah duka, bagi kaum ibu membawa beras sekedarnya dan kaum laki-laki menggali/ membuat untuk pemakaman (kuburan) dan banyak juga yang menyumbang seadanya sebagai pembeli sabun dan kain kafan. Pelaksanaan penyelamatan jenazah (Pardu Kifayah) dilaksanakan oleh keluarga seperti memandikan, mengafankan, dan lain-lain dengan bimbingan Malin dalam Suku masing-masing.
Setelah mayat dikubur setelah ditalaqinkan dilanjutkan dengan mengaji sampai do’a dikuburan dan baru pulang kerumah masing-masing, dilanjutkan takziah pada malam sesudah Shalat  magrib sampai tiga malam berturut-turut.
Selanjutnya di Tanjung Balik ada dua persi,  Ada yang membilangan hari dan ada yang hanya kenduri saja, bagi yang membilangkan hari dimulai dari manujuah hari,  duo kali tujuah, malimo puluah hari dan manyaratuih hari (itu yang sifatnya menjamu orang banyak) sedangkan dibilangan sepuluh hari, duo puluah hari dan seterusnya selain tersebut diatas hanya satu orang siak saja.

BAKAUA / TALAK BALA
Bakaua dilaksanakan adalah setelah masa sesudah manuai (panen padi) dimulai dari salawat-salawat talak bala  disepanjang bukit-bukit selama tujuh malam kemudian direncanakan bakaua dikelompok-kelompok apa yang akan disembelih (dibantai) masyarakat lalu menyumbang atau yang disebut baiyua untuk membeli Kambing atau Jawi, dan bagi kaum ibu setiap keluarga membawa nasi badulang untuk anak-anak dibungkuskan nasi oleh ibunya sedangkan gulainya dimasak ditempat bakaua tersebut, setelah dilaksanakan beberapa amalan diakiri dengan makan bersama.
Setelah selesai bakaua tersebut dilaksanakan pertandingan layang-layang, dalam pertandingan layang-layang tersebut diundang dari nagari-nagari tetangga.

TURUN KESAWAH
Apabila hujan telah mulai merata maka pemuka-pemuka kampung mulai merencanakan turun kesawah, sedangkan kaum ibu-ibu mulai mencari benih dan ada suatu tradisi mamintak baniah kaluak dodok yang terletak pendakian gunung papan, caranya kaum kesana membawa beberapa persyaratan lalu diluak tersebut diseraikan ampiang batiah dan alat-alat lain lalu pulang kemudian tiga sampai tujuh hari kembali lagi kesana, dengan keajaibannya diluak tersebut yang sebelumnya tidak ada padi yang tumbuh satupun, dalam waktu tujuh hari tersebut sudah ada saja padi yang sudah masak siap panen agak satu rumpun, maka padi itu diambil dan dibagi-bagi kepada masyarakat oleh tua-tua kampung lalu dicampurkan kebenih yang telah disediakan masing-masing keluarga, walaupun benih yang dari luak dodok itu hanya agak sepuluh biji saja.
Pekerjaan kesawah dilaksanakan secara balelong tidak ada yang diupah hanya diberi makan dan minum, dimulai dari mambajak,mambaliak, manyikek damanota, terus dilanjutkan dengan pekerjaan batanam oleh kaum ibu, disinilah ada beberapa tradisi yaitu manyumandan bagi istri dunsanak laki-laki, dan sumandan tersebut berlomba membawa beberapa makanan dan tenaga untuk bekerja (batanam) dari sumandan-sumandan tersebut harus mencari yang ahli maliirik ( yaitu komandan dari batanam ) lirik tersebut adalah benih yang ditanam mulai dari arah utara minsalnya harus lurus sampai arah selatan tanpa menggunakan tali dan itulah yang akan diikuti oleh anggota lain, kalau tidak lurus akan menjadi cemoohan oleh yang lain.
Selanjutnya setelah padi berumur ± satu bulan dikuwia, yaitu dengan suatu alat yang dibuat dari kayu yang diberi paku-paku panjang sebagai giginya untuk penggarut tanah dan bertangkai panjang, setelah padi berumur dua atau tiga bulan disiang dan dilanjutkan dengan siang duo koli, memarang dan sebagainya.
Padi semasa dahulu berumur enam bulan dan untuk memanennya dengan cara Manuai, tuai tersebut terbuat dari papan tipis berukuran ± 3 X 5 Cm diberi mata yang tajam ada yang dari seng plat yang diasah tajam dan ada juga yang dari pisau silet, pekerjaan ini dikerjakan oleh kaum ibu secara balelong dan sumandan. Dan kemudian ada padi yang cepat berumur 4 atau 5 bulan padinya agak rendah, maka baru ada yang menyabit dan diiriak, lain lagi dunia mairiak yang juga dilaksanakan secara gotong royong pemilik hanya menyediakan makan dan minum, mairiak ini sangat diminati oleh generasi muda karena disini suatu pertemuan bagi muda mudi, yang laki-laki mairiak yang perumpuan mangirai dan menghidangkan makanan.
Adalagi pekerjaan orang tua-tua dahulu yang kurang dikenal dizaman moderen sekarang yaitu Manyauk padi, mambuek Galu-galu, mamabuek ampiang, manumbuak padi jo endek, manumbuak padi jo lasuang kayu/batu dengan alu yang bisa dilaksanakan sekaligus dua dan tiga orang bahkan ada yang empat orang memainkan alu dalam satu lasuang.

MANJALANG (MANYUMANDAN)
Adalagi suatu tradisi bagi kaum ibu di Nagari Tanjung Balik yaitu Manjalang atau Manyumandan, pada umumnya manjalang atau manyumandan ini dilaksanakan pada waktu ada acara dirumah dunsanak Suami dan dihari masuk Puasa serta dihari Raya Idul Fitri.
Diwaktu acara baralek dirumah dunsanak Suami dan diwaktu hari mau Puasa dihari pertama sampai hari ketiga setelah Sholat Idul Fitri  sang isteri membuat beberapa juadah seperti beragam ragam Sambal dan gulai, beragam-ragam kue, juadah tersebut disusun didalam dulang sampai dua atau tiga buah dulang bisa juga lebih lalu ditutup dengan tudung  yang berhiyas, kemudian dengan secara sosial tetangga membantu untuk mengantarkan dulang tersebut kerumah sumandannya dengan berjalan kaki untuk memamerkan kepada orang kampung, setelah sampai dirumah sumandan kalau dihari mau Puasa atau hari Raya makan bersama dan ber-do’a, kalau diwaktu acara baralek diserahkan saja untuk menjadi bagian dari haidangan.

MACAM-MACAM KENDURI ( BADO’A )

Kenduri atau yang disebut bado’a yang bersifat menjamu orang banyak antara lain adalah sebagai berikut :
1.       Bado’a Sudah Manuai (sehabis panen padi )
2.       Bado’a Hakikah dan Nazar
3.       Bado’a sampai tujuh hari yang disebut manujuah hari
4.       Bado’a empat belas hari yang disebut bado’a duo kali tujuah
5.       Bado’a lima puluh hari juga disebut malimo puluah
6.       Bado’a seratus hari atau disebut do’a manyaratuih
7.       Bado’a Naiak rumah (rumah yang baru siap harus mendo’a sebelum ditempati)
8.       Do’a Tolak Bola,
9.       Bakaua,
10.   Bado’a Sawah,
11.   Do’a Petang kamis,
12.   Do’a Khatam Qur-an,
13.   Do’a Basuah Lantai > ini dilaksanakan setelah alek perkawinan,
14.   Do’a Bulan -bulan yang dimuliakan seperti Bulan Maulid,Bulan Sya’ban dll.

Peringatan-peringatan hari besar Islam seperti :
Ø  Maulid Nabi Muhammad, SAW
Ø  Isyra’ Mi’rad Nabi Muhammad, SAW dan hari besar Islam lainnya


ADAT MANJADI URANG SUMANDO

Seorang laki-laki yang sudah ber isteri dan sudah dipakaikan adat (barolek) itu sudah menjadi urang sumando dirumah tanggo urang, dan sudah mempunyai tugas serta kewajiban yang harus dilaksanakan baik menurut agama maupun menurut adat tugas dan kewajiban tersebut antara lain :
1.Setelah Ijab Kabul dilaksanakan dari Wali yang syah dan calon mempelai laki-laki menjawab Ijab Kabul tersebut dengan benar maka Syah lah pernikahan itu, mulai dari itu seluruh beban orang tua terhadap anaknya tersebut sudah menjadi tanggung jawab suaminya menurut hukum agama, dan menurut adat sebagai seorang urang sumando juga mempunyai beberapa tugas dan tanggung jawab diatas rumah tangga orang :

· Kajadi kunci nan taguah, mamacik kunci nan bagewang, mamandang hereang jo gendeang manulak nan mularat mangabiah nan mumfaat.
·Urang sumando kok duduak manuruik adat mambulakangi biliak malapeh pandang kalua, mancaliak data parumahan maliek lereang paladangan tampak taruko kok lah liek.
·Selaku urang sumando harus belajar dan baguru apa yang menjadi tugas dan tanggung jawab sebagai urang sumando diatas rumah tangga orang, sebagai pemimpin dalam keluarganya.

Banyak macam-macam urang sumando yang perlu dipahami antara lain :
1.  Urang Sumando Kacang Miang, karajonyo gilo manggisia jo manggata urang nan sanang dipasusahnyo, itu tak buliah kadipakai.
2.   Urang Sumando Kungkuang Dapua, karajonyo satiok haro gilo jo anak bini sajo indak namuah manambah usaho, indak bapikia untuak maso depan anak-anaknyo.
3.  Urang Sumando Langau Hijau, karajonyo gilo mahasuang jo pitanah manggunjiangkan urang suwok kida, kudo nan mandaki angoknyo nan sasak.
4.  Urang Sumando Niniak Mamak, ikolah sifat kadipakai kalaunyo sifaik urang sumando niniak mamak, kajadi suluah nan tarang katampek baiyo jo batido diateh rumah tanggo  dek niniak mamak maupun dek urang kampuang / Nagari, mampunyoi malu dengan sopan manaruah raso jo pareso pandai harago maharagoi nan tasabuik didalam patatah adat, nan urang sumando jo niniak mamak nan bak aua jo tabiang, bak lantak jo baramban paguno dirumah tanggo.

Itulah sekelumit tugas dan kewajiban sebagai Urang Sumando diateh rumah tanggo urang dan masih banyak yang harus dipelajari seperti tugas-tugas dalam pelaksanaan adat barolek kawin dan lain sebagainya,karena dalam pelaksanaan barolek kawin yang sebagai pelaksana olek itu adalah urang sumando, sedangkan niniak mamak sebaga pelaksana adat istiadat, kerja urang sumando mulai menjodohkan, barunding, batando dan pelaksana olek itu adalah tugas urang sumando.

   
KESENIAN ANAK NAGARI TANJUNG BALIK

kebudayaan khas adat tanjung balit
Sibuntu

Kesenian kesenian anak Nagari Tanjung Balik diantaranya adalah :
·         Randai
·         Tari Piring
·         Talempong
·         Saluang jo Dendang
·         Dendang jo Bansi
·         Pupuik Sarunai
·         Pupuik Gadang
·         Pupuik Tanduak
·         Pancak Silat
·         Tari Payung

·         Gelombang duo baleh
·         Tari Indang
·         Tari Adok
·         Main Lukah/ Lukah gilo
·         Badabuih
·         Selawat Dulang
·         Sikia Rabana
·         Badunia Oyak Osen
·         Sibuntu-sibuntuan
·         Layang-layang
Tradisi Nagari Tanjung Balik semasa dahulu yang paling dominan adalah Badunia Oyak Osen, Sibuntu-sibuntu, Badabuih, dan Main Lukah serta tidak ketinggalan segala permainan-permainan tersebut diatas.
Badunia Oyak Osen tersebut dilaksanakan pada malam sebelum peringatan HUTRI Kemerdekaan 17 Agustus setiap tahunnya yaitu tanggal 16 Agustus malamnya, arak-arakan warga Tanjung Balik dibagi dua bagian yaitu karek hilia dan karek mudiak, arak-arakan tersebut memakai Suluah Tolang ( obor minyak tanah yang terbuat dari sejenis bambu tipis) arak-arakan tersebut berakir di sawah pulau disanakan dilaksanakan kurung mengurung antara kedua kelompok tersebut, dan kalau karek mudiak terkurung oleh karek hilia ada hikmahnya kedalam pertanian yaitu penghasilan padi sawah akan memuaskan (manjadi).

Pada siang harinya barulah dilaksanakan kesenian-kesenian lainnya sibuntu-sibuntu panjat pinang dan permaianan anak nagari lainnya, sibuntu-sibuntu tersebut adalah berkisah dari orang yang tinggal dalam rimba   dia datang dikala ada keramaian untuk meminta-minta dengan wajah tertutup dan baju compang camping.

Berikut: Tugas Dan Fungsi Penghulu Serta Bundo Kanduang Di Minangkabau

Artikel terkait:
Previous
Next Post »