Imam 4 Mahzab Mencintai Tasawuf, Mengapa Anda Tidak?

Ulama - Ulama Besar Yang Bertasawuf Dan Mencintai Para Sufi 

Imam 4 mahzab mencintai tasawuf

Diantara ulama - ulama besar yang begitu mencintai para sufi dan ajaran tasawuf yang mengajarkan akan ihsan dan pembersihan hati. Mereka adalah orang - orang pilihan dalam islam, imam mahzab, pengarang kitab-kitab terkenal yang di jadikan sebagai rujukan utama setelah Al-Quran dan hadist. Bagi siapa yang mengenal ajaran tasawuf yang sebenarnya, tentu bisa di pastikan mereka akan mencintai para sufi, para wali dan orang-orang yang berusaha mencari jalan untuk mengenal dirinya sendiri. Seperti orang-orang besar berikut yang memahami apa itu ilmu tasawuf, apa itu sufi dan seperti apakah ajaran tarekat yang sebenarnya yang saat ini di anggap sesat oleh orang-orang yang tak mau berusaha untuk belajar dan memahami barang sedikit tentang tasawuf dan ajaran para ulama sufi, ulama tersebut adalah:

1. Imam Abu Hanifah RA.

Imam Abu Hanifah RA. adalah seorang imam mazhab dari empat mazhab terkenal, ternyata juga se- orang Mursyid Thariqah Sufi. Diriwayatkan oleh seorang Faqih Hanafi al-Hashkafi, menegaskan, bahwa Abu Ali ad-Daqqaq ra, berkata: “Aku mengambil Thariqah sufi ini dari Abul Qasim an-Nashr Abadzy, dan Abul Qasim mengambil dari Asy-Syibly, dan Asy-Syibly mengambil dari Sary as-Saqathy, beliau mengambil dari Ma’ruf al- Karkhy, dan beliau mengam- bil dari Dawud at-Tha’y, dan Dawud mengambil dari Abu Hanifah Ra.

Abu Hanifah dikenal sebagai Fuquha ulung, ternyata tetap memadukan antara syariat dan hakikat. Dan Abu Hanifah terkenal zuhud, wara’ dan ahlu dzikir yang begitu dalam, ahli kasyf, dan sangat dekat dengan Allah, berkah Tasawuf yang diamalkannya.

Imam Abu Hanifah (Nu'man bin Tsabit) murid dari Ahli Silsilah Thariqat Naqsyabandiyah, Imam Jafar as Shadiq ra. ...Abu Hanifah berkata: "Jika tidak karena dua tahun, Nu'man telah celaka. Karena 2 tahun saya bersama Imam Jafar as Shadiq, maka saya mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar.

(Jalaluddin as Suyuthi didalam kitab Durr al Mantsur)


2. Imam Malik RA.

Malik bin Anas - Ulama besar pendiri mazhab Maliki yang juga murid Imam Jafar as Shadiq ra. Beliau mengatakan soal tasawuf ini dengan kata-kata yang sangat popular hingga saat ini. “Siapa yang bersyariat atau berfiqih tanpa bertasawuf, benar-benar menjadi fasiq. Dan siapa yang bertasawuf tanpa bersyariat (berfiqih) benar-benar zindiq. Siapa yang mengintegrasikan Fiqih dan Tasawuf benar-benar menapaki hakikat kebenaran.

(Ali al-Adawi dalam kitab Ulama fiqih, vol. 2, hal. 195 yang meriwayatkan dari Imam Abul Hasan).


3. Imam Syafi’i RA.

Beliau berkata: “Aku diberi rasa cinta melebihi dunia kalian semua: Meninggalkan hal-hal yang memaksa, bergaul dengan sesama penuh dengan kelembutan, dan mengikuti thariqat ahli tasawuf dengan menerima 3 ilmu :

Mereka mengajariku bagaimana berbicara
Mereka mengajariku bagaimana memperlakukan orang lain dengan kasih sayang dan kelembutan hati
Mereka membimbingku ke dalam jalan tasawuf
(Riwayat dari kitab Kasyf al-Khafa dan Muzid al Albas, Imam 'Ajluni, vol. 1, hal. 341)



4. Imam Ahmad bin Hambal RA.

Sebelum belajar Tasawuf, Imam Ahmad bin Hambal menegaskan kepada putranya, Abdullah ra. “Hai anakku, hendaknya engkau berpijak pada hadits. Kamu harus hati-hati bersama orang-orang yang menamakan dirinya kaum Sufi. Karena kadang diantara mereka sangat bodoh dengan agama.” Namun ketika beliau berguru kepada Abu Hamzah al-Baghdady as-Shufy, dan mengenal perilaku kaum Sufi, tiba-tiba dia berkata pada putranya “Hai anakku hendaknya engkau bermajlis dengan para Sufi, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka selalu mengingat Allah dalam hati mereka., melalui ilmu yang banyak, muroqobah, rasa takut kepada Allah, zuhud dan himmah yang luhur (Allah)” Mereka adalah orang-orang zuhud yang memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi. Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka"



Beliau mengatakan, “Aku tidak pernah melihat suatu kaum yang lebih utama ketimbang kaum Sufi.” Lalu Imam Ahmad ditanya, “Bukanlah mereka sering menikmati sama’ dan ekstase ?” Imam Ahmad menjawab, “Dakwah mereka adalah bergembira bersama Allah dalam setiap saat…”

(Ghiza al Albab, vol. 1, hal. 120 ; Tanwir al Qulub, hal. 405, Syaikh Amin al Kurdi)


5. Imam Jalaluddin as Suyuti RA.

 
Tasawuf adalah ilmu yang paling baik dan terpuji. Ilmu ini menjelaskan bagaimana mengikuti Sunah Nabi SAW dan meninggalkan bid'ah.

(Ta'yad al haqiqat al 'Aliyyah, hal. 57)


6. Imam Ibnu Taimiyyah RA.

Ulama penentang tasawuf, akhirnya mengakui tasawuf adalah jalan kebenaran, sehingga menjadi pengikut thariqah Qadiriyyah."Kalian harus mengetahui bahwa para syaikh yang terbimbing harus diambil dan diikuti sebagai petunjuk dan teladan dalam agama, karena mereka mengikuti jejak Para Nabi dan Rasul.
Thariqah para syaikh itu adalah untuk menyeru manusia kepada Hadhirat Allah dan ketaatan kepada Nabi.

(Majmu al Fatawa Ibn Taimiyyah, terbitan Dar ar Rahmat, Kairo, Vol. 11, hal. 497, dalam bab. Tasawuf )


7. Zakaria Al Anshari RA.

Beliau berkata; Tasawuf adalah ilmu yang menerangkan hal-hal tentang cara membersihkan atau mensucikan jiwa, tentang cara memperbaiki akhlak dan tentang cara pembinaan kesejahteraan lahir dan batin untuk mencapai kebahagiaan abadi.


8. Imam Al-Muhasiby RA.

Abu Abdullah al-Harits Al-Muhasiby, wafat tahun 243 H, diantara karyanya adalah al-Luma’ dan Kitabul Washaya, yang sangat popular diantara kaum Sufi. Beliau pernah mengatakan berhubungan dengan perjuangan dirinya dalam mencapai wushul kepada Allah, melalui jalan Tasawuf dan tokoh-tokoh Sufi, “Amma Ba’du, sudah ada penjelasan, bahwa ummat ini terpecah menjadi tujupuluh lebih golongan Diantara golongan itu ada satu golongan yang selamat, Wallahu A’lam sisanya. Dan sepanjang usia saya, sering diperlihatkan perbedaan antara ummat. Saya mengikuti metode yang jelas dan jalan utama. Aku mencari ilmu dan amal. Saya menapak jalan akhirat melalui petunjuk para Ulama, dan saya memegang ayat Al-Qur’an melalui penakwilan para fuqoha’, dan aku merenungkan urusan ummat, dan menganalisa pandangan dan mazhabnya. Saya berfikir mengenai apa yang mampu, dan betapa banyak perbedaan yang begitu mendalam yang menenggelamkan banyak orang. Hanya sekolompok manusia yang selamat. Saya melihat bahwa mereka berpendapat bahwa golongan merekalah yang selamat.



Al-Muhasiby mengatakan: “Kemudian aku sangat mencintai mazhab kaum Sufi dan sangat banyak mengambil faedah dari mereka, menerima adab-adab mereka karena ketaatan mereka, yang sangat lurus, dan tak seorang pun melebihi mereka. Kemudian Allah membukakan padaku bukti-bukti tasawuf, keutamaannya mencerahkan jiwaku, dan aku berharap agar keselamatan ada pada orang yang mengakuinya, atau merias dengan perilakunya. Aku sangat yakin adanya pertolongan besar bagi yang mengamalkannya, dan aku pun melihat adanya pelencengan pandangan bagi yang menentangnya. Aku juga melihat adanya kotoran yang mengerak pada hati yang menentang tasawuf, dan terlihat pula adanya argumentasi yang luhur bagi yang memahaminya. Bahkan kemudian, aku mewajibkan diriku untuk mengamalkannya. Aku meyakininya dalam akidah rahasia batinku, dan meliputinya pada kedalaman rasaku, bahkan kujadikan tasawuf itu sebagai asas agamaku, dimana aku bangun amal-amalku, lalu di bangunan itu aku mondar-mandir dengan perilaku hatiku ”.


9. Imam Asy-Sya’rany

Jika ada pertanyaan, kenapa para Mujtahidin itu tidak menulis kitab khusus mengenai Tasawuf, jika mereka mengikuti aliran Sufi? Imam Asy-Sya’rany, mengatakan, “Para Mujtahidun itu tidak menulis kitab khusus mengenai tasawuf, karena penyakit-penyakit jiwa kaum muslimin di zamannya masih sedikit. Mereka lebih banyak selamat dari riya’ dan kemunafikan. Mereka yang tidak selamat jumlahnya kecil. Hampir-hampir cacat mereka tidak tampak di masa itu. Sehingga mayoritas Mujtahidin di masa itu lebih konsentrasi pada bidang ilmu dan mensistematisir pemahaman pengetahuan yang tersebar di kota dan desa, dengan para Tabi’in dan Tabiit Tabi’in, yang merupakan sumber materi pengetahuan, sehingga dari mereka dikenal timbangan seluruh hukum, dibanding berdebat soal amaliyah qalbiyah sebagian orang yang tidak banyak muncul”.



10. Dr. Yusuf Qardhawi, guru besar Universitas al Azhar - Mesir

Di dalam kumpulan fatwanya: "Arti tasawuf dalam agama ialah memperdalam ke bagian ruhaniah, ubudiyyah, dan perhatiannya tercurah seputar permasalahan itu".
“Para sufi sangat berhati-hati dalam meniti jalan di atas garis Al-Qur,an dan As-Sunnah. Bersih dari berbagai pikiran dan praktek yang menyimpang, baik dalam ibadat atau pikirannya. Banyak orang yang masuk Islam karena pengaruh mereka, Banyak orang yang durhaka dan zhalim bertobat karena jasa mereka. Dan banyak mewariskan pada dunia Islam, berupa kekayaan besar dari peradaban dan ilmu, terutama di bidang marifat, akhlak dan pengalaman ruhani, semua itu tidak dapat diingkari".


Sumber: Link

Previous
Next Post »