Kebangkitan Ulama Tariqah Nusantara - Tariqah Adalah Kebersamaan

Silaturrahmi Ulama Tarekat Nusantara Di Kabupaten Solok


kebangkitan ulama tarekat nusantara

Solok Berzikir dan Silaturrahmi Akbar Ulama Tariqah Se-Sumatera” dihelat kerjasama Pemerintah Daerah Kabupaten Solok dengan Dewan Ulama Tariqah Indonesia (DUTI). Kegiatan ini mengusung tema “Tariqah adalah kebersamaan dan di dalam kebersaman terdapat keberkahan”. Acara yang dipusatkan di Masjid Islamic Centre Kab. Solok, Sumatera Barat, 23/4/2016, ini dihadiri para mursyid/khalifah dan murid-muridnya dari berbagai tariqah di Sumatera dan Jawa.


Silaturahmi dimulai bakda Asar dan dibuka dengan selawat dari Tim Salawat Majelis Rabbani Indonesia, Pesantren Tasawuf Rabbani, Solok. “Silaturahim Ulama Tariqah Se-Sumatera ini merupakan yang pertama kali diselenggarakan. Sebelumnya, pada bulan Januari lalu, kita telah melakukan Majelis Mudzakarah dan Tawajjuh Akbar yang diinisiasi oleh para mursyid/khalifah se-Sumatera Barat,” ungkap H. Nafrul selamu ketua panitia.


Selanjutnya, Dr. Hanafi Caniago, Ma selaku ketua Forum Persaudaraan Tariqah Indonesia Pusat menyampaikan sambutannya. Ia menekankan bahwa sejarah telah membuktikan kaum tarekatlah yang mampu menciptakan peradaban. Mereka berbuat dengan mengorbankan segala miliknya demi tegaknya agama Allah, sang Kekasih. “Kabupaten Solok bisa menjadi role model untuk membangun peradaban dan negeri rabbani. Negeri yang mengutamakan cinta dan kasih sayang kepada sesama atas dasar iman dan takwa kepada Allah. Karena itu, kaum tariqah siap mendukung pemerintah daerah untuk mewujudkannya. Kegiatan zikir seperti ini hendaknya menjadi program rutin karena sangat dibutuhkan oleh masyarakat,” harapnya. Harapan yang sama juga disampaikan oleh Ketua Ulama Tariqah Sumatera Barat, Buya Mahyuzil Rahmat, S.Ag.


Mengambut harapan para penggiat dan pengamal tariqah tersebut, Wakil Bupati Solok, Yulfadri Nurdin, SH mengatakan, “Pemerintah Kabupaten Solok akan mendukung setiap kegiatan keislaman.” Bahkan, kegiatan zikir seperti ini akan dijadikan agenda rutin tahunan dan juga akan didukung dengan pameran dan syiar Islam lainnya, janji Nurdin. Ini juga atas bisik-bisik Wakil Ketua DPRD Kab. Solok tadi, lanjut Nurdin.


Silaturrahim ini dihadiri oleh Mursyid Tariqah Syattariyah dari Aceh, Tengku Haji Ahmad Tajuddin; Mursyid Tariqah Naqayabandi dari Ponpes Darussalam Rokan Hulu Riau, Buya Haji Alaidin bin Syekh Aidarus bin Abdul Ghany; Khalifah Tariqah Aurad Muhammadiyah (Global Imhwan) dari Sumatera Utara, Syekh Datu Tengku Abdurrahman Umar; Mursyid Tariqah Sammaniyah, Syekh Edison Kasim dari Payakumbuh; Mursyid Tariqah Muqtadiriyah dari Jakarta, Habib Rais Ridjaly bin Hasjim bin Thahir AQ asal Ambon; Mursyid Tariqah Naqsyabandiyah dari Rao Pasaman, Syekh H. Harmaini Nur; khalifah Tariqah Naqsyabandi dari Tanjung Pasei Tanah Datar, Buya H. Yasri Memalanso; kalifah Tariqah Naqsyabandiyah dari Manggilang 50 Kota, Muhammad Nur, S.Pd.I. Sebagai tuan rumah, Mursyid Tariqah Qadiriyah Hanafiyah, Dr (HC) Tuangku Syekh Muhammad Ali Hanafiah Al Qutub al Rabbani dan didampingi oleh 5 khalifah utamanya; Prof. Dr. Ahmad Rahman, M.Ag, Buya Dr. Hanafi Guciano, MA, Buya Hendra Saputra, SH, M.Si, Buya Mahyuzil Rahmat, S.Ag, dan Buya Zulkifli Sukma, S.Ag. Masing-masing mursyid dan khalifah membawa jamaah dan murid-muridnya masing-masing hingga peserta yang hadir mencapai lebih dari 2000 orang.


kebangkitan ulama tarekat nusantara

Silih berganti para mursyid/khalifah memberikan tausiahnya. Buya Alaiddin mengatakan, para ulama adalah pewaris Nabi. Nabi Saw bersabda, “Aku bangga dengan umatku yang mencintaiku walau mereka tidak melihatku.” Mereka itu adalah para pengikut ulama. Selaian itu, Buya juga menjelaskan tentang martabat ihsan adalah beribadah seakan meihat Allah, atau merasakan dilihat Allah (muraqabah). Solusi dunia ini adalah berihsan, dan untuk berihsan maka harus bertariqah. Dalam bertariqah harus berbaiat kepada guru, dan banyak latihan atau riyadhah. Mengajarkan agama ibarat berkebun. Kita harus meninggalkan anak dengan iman (tanah yg subur) yang kuat. Tanah yang subur ini harus ditanami dengan tanaman (ibadah, syariat) yang baik dan beragam. Selanjutnya tanah dan tanaman harus dipelihara agar berbuah (akhlak) dan tidak rusak oleh penyakit. Untuk mencapai ini tidak lain kecuali dengan zikrullah. Buya juga mengingatkan, bahwa untuk takwa kepada Allah, seseorang harus mencari jala nya. Jalannya itu adalah mencari guru sebagai penuntun dan disertai dengan mujahadah yang tinggi. Allah Swt berirman, “Wahai orang beriman, takwalah kepada Allah dan carilah jalan kepada-Nya, be1rsungguh-sungguhlah di jalan Allah agar kalian beruntung.” (QS. Al-Isra’, 17:57).


Global Ikhwan dari Sumatera Utara, Syekh Datu Tengku Abdurrahman Umar asal Aceh, menjelaskan firman Allah, “Siapa yang berpaling dari mengingat-Ku maka akan menjalani kehidupan yang sempit, di hari kiamat akan Kami kumpulkan dalam keadaan buta. Mereka berkata, “Ya tuhan-Ku! Mengapa Engkau mengumpulkan kami dalam keadaan buta padahal waktu di dunia kami melihat? Allah berfirman, “Begitulah, karena kamu dulu telah didatangi ayat-ayat-Ku tetapi kalian melupakannya. Maka, hari ini pun kalian dilupakan. (QS. Thaha, 20: 124-125).
Pesan mursyid, “Anakku, kekuatan umat Islam adalah rasa cinta kepada Allah dan rasul-Nya sebagai bentuk takwanya. Orang-orang yang takwa adalah mereka yang bertariqah. Sebenarnya, kita adalah warga negara akhirat dan akan kembali ke negara asalnya. Tariqah ini adalah jalan membersihkan hati.


Sementara itu, Tengku Ahmad Tajuddin dari Aceh menjelaskan tentang posisi orang-orang yang bertariqah saat ini. Ia mengacu pada firman AllahQS. al-Maidah, :54,
من يرتد منكم عن دينه فسوف يأتي الله بقوم يحبهم ويحبونه أذلة علي المؤمنين أعزة علي الكافرين يجاهدون في سبيل الله ولا يخافون لومة لاءم

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Mā’idah, 5:54)
Ayat ini menurutnya dialamatkan kepada kita umat Nabi Muhammad Saw di akhir zaman. Sebab, yang memiliki sifat-sifst demikian hanyalah orang-orang yang bertariqah. Hatinya hanya cinta kepada Allah, lemah lembut kepada sesama orang mukmin, tegas terhadap orang kafir, selaku berjuang di jalan Allah, dan tidak peduli dengan celaan orang lain. Ia mengingatkan tentan hadis Nabi Saw yang mengisyaratkan akan datangnya Imam Mahdi dan Nabi Isa a.s. yang akan hadir pada ini. Okeh karena itu, saatnya kita menentukan sikap dan berjuang. Tidak boleh menyerahkan agama ini kepada orang lain, tetapi kita di sini dan saat ini harus berbuat dan berjuang.


Berikutnya giliran Habib Rais, mursyid Tariqah Muqtadiriyah dari Jakarta yang memberikan tausiah. Habib Rais menekankankan tentang pentingnya salawat sebagai tanda cinta kepada Rasulullah Saw. Ia mengutip firman Allah,

 إن الله وملاءكته يصلون علي النبي يايها الذين آمنوا صلوا عليه وسلموا تسليما 
Sesungguhnya Allah dan para malaikat berselawat kepada Nabi Muhammad Saw, maka wahai orang yang beriman, berselawatlah padanya dan sampaikanlah salam keselamatan untuknya! [QS Al Ahzab, 33:56]). 

Selain itu, Habib juga mengingatkan tentang pentingnya membentuk akhlak. Akhlak bisa dibentuk dengan membiasakan mengamalkan sunnah-sunnah Nabi Saw.
Kegiatan ditutup dengan zikir dan muhasabah bersama yang dipimpin oleh Tuangku Syekh Muhammad Ali Hanfiah Al Qutub Al Rabbani. Hampir satu jam para jamaah larut dalam zikir yang menyentuh rasa nuraninya. “Zikir ini menghidupkan rasa bertuhan yang dapat merasakan kedekatan dengan-Nya tanpa jarak dan perantara,” ungkap Arif Batunanggar yang sengaja datang hadir dari Jakarta. 

Oleh : DR. Zubair Ahmad 
Sumber : majelisrabbani.org



Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar
5/3/16, 10:42 AM delete

Assalamualaikum,
Yth. Bp. DR.Zubair Ahmad,
Ada kesalahan penulisan nama Mursyid kami dlm artikel yang bapak tulis dalam posting tsb, yaitu Tertulis nama Mursyid kami Habib Rois, yang benar adalah Habib Rais Ridjaly Bin Hasjim Bin Thahir AQ. Sehubungan dengan hal itu, mohon kiranya bapak berkenan untuk merevisi kesalahan penulisan nama tersebut. Terima kasih
Wassalam,
Sekjen Ribath Majlis Al Abrar
Thariqat Al Muqtadiriyah
Rahadi ABW (Fatah)

Reply
avatar
5/3/16, 3:44 PM delete

Alaikum salam, akan kami konfirmasikan ke bapak Zubair

Reply
avatar