Tafsir Sufi - Dan Ku-Tiupkan Kepadanya Ruh-Ku ( QS. Shaad - 72 )

Hakikat Tiupan Ruh Dari Sudut Pandang Tasawuf


Ku-tiupkan ruh-Ku-tafsir shaad 72
Image by: majelisrabbani.org


Allah berfirman dalam Surat Shaad ayat 72

فَإِذَا سَوَّيۡتُهُۥ وَنَفَخۡتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُواْ لَهُۥ سَٰجِدِينَ ٧٢

Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh-Ku
(QS. Shaad, 38 :72)

Menurut Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah, penggunaan kata “meniupkan” mencerminkan bahwa perbuatan itu adalah kerja Allah secara langsung tanpa melibatkan makhluknya. Hal itu berbeda ketika menggunakan kata “menciptakan atau menjadikan”, misalnya menciptakan manusia dari saripati tanah karena melibatkan peran banyak pihak, termasuk keterlibatan ibu dan bapak. Namun, penggunaan kata nafakha (meniupkan) menunjukkan adanya proses langsung tanpa perantara.

Apakah Allah memiliki ruh? Sehingga dapat ditiupkan ke dalam diri manusia? Kalau Allah memiliki ruh, apa bedanya dengan makhluk?

Menurut Tuangku, yang dimaksud dengan Ruh-Ku adalah sifat Allah yang termasuk sifat ma’ani, yaitu :
Qudrah (kekuasaan),
Iradah (kehendak),
Ilmu (pengetahuan),
Hayat (kehidupan),
Sama’ (pendengaran),
Bashar (penglihatan),
Kalam (pembicaraan).

Dengan tiupan sifat qudrah Allah, sehingga manusia memiliki kekuasaan atau kekuatan;

Dengan tiupan sifat iradah Allah, sehingga manusia memiliki kehendak atau keinginan;

Dengan tiupan sifat ilmu Allah, sehingga manusia memiliki pengetahuan;

Dengan tiupan sifat hayat Allah, sehingga manusia memiliki kehidupan;

Dengan tiupan sifat sama’ Allah, sehingga manusia memiliki pendengaran;

Dengan tiupan sifat bashar Allah, sehingga manusia memiliki penglihatan; dan

Dengan tiupan sifat kalam Allah, sehingga manusia memiliki perkataan.

Perhatikan firman Allah Swt berikut:

Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ruh sifat-Nya ke dalam (tubuh)nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur. (QS. Sajadah, 32:9).

Tiupan tersebut tidak pernah putus hingga ruh tersebut dicabut kembali dari jasad manusia atau di saat mati.

Itulah makna dari salah satu firman Allah yang menjelaskan bahwa “Allah itu lebih dekat daripada urat nadi manusia.” Betapa tidak lebih dekat, sementara tiupan sifat hayat Allah yang menjadikan manusia itu hidup. Dan ingat, sifat dengan zat tidak pernah berpisah. Walaupun hidup/hayat itu adalah sifat tetapi hayat itu melekat dan tidak terpisah dengan zat Allah. Artinya, ruh manusia tidak pernah berpisah dengan Allah. Sekali lagi, Allah meniupkan sifat-Nya ke dalam jasad manusia tidak pernah putus kecuali apabila manusia meninggal dunia. Apabila Allah berhenti meniupkan sifatnya ke dalam tubuh, maka disebutlah tubuh itu sebagai mayat.

Menurut Tuangku, diri manusia ini memiliki tiga unsur, yaitu:
Unsur jasmani
Unsur ruhani
Unsur nurani.

Unsur jasmani meliputi seluruh bagian tubuh fisik manusia, unsur ruhani mencakup hati, akal, dan nafsu; dan unsur nurani mencakup sirr yang ada di dalam hati.

Masing-masing unsur tersebut memiliki rasa. Jasmani memiliki rasa jasmani yang dapat merasakan sesuatu yang bersifat fisikal, seperti manis-pahit, panas-dingin, lembut-kasar, dll. Ruhani juga memiliki rasa, yaitu rasa ruhani yang bisa merasakan senang-sedih, cinta-benci, damai-marah, dll. Begitu pula dengan nurani, ia memiliki rasa yang dapat merasakan sesuatu yang salah atau benar dan merasakan Allah. Baca " RASA " Satelit Penangkap Sinyal Keberadaan Tuhan

Segala sesuatu yang dikenali melalui rasa mustahil bagi akal untuk menjelaskan hakikatnya. Hakikat dari manis saja tidak akan mampu menjelaskannya. Walaupun dibuat banyak buku untuk menjelaskan apa itu manis namun tetap saja tidak mungkin mengenali manis itu, tanpa mencicipinya. Semua orang yang pernah mencicipi rasa manis tentu mengakui hakikat manis itu sebagai sesuatu yang ada dan nyata, tetapi tidak sanggup mengungkapnya dalam kata atau kalimat. Ini baru rasa jasmani!

Begitu pula dengan rasa cinta. Semua orang yang pernah merasakan cinta, sangat paham tentang hakikat cinta walaupun ianya tidak sanggup menjelaskan hakikat cinta dalam rangkaian kata atau kalimat.  Cinta itu ada dan nyata dan akal tidak akan sanggup menjelaskannya.
Baca Tasawuf Cinta Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah

Apalagi rasa nurani, ia dapat merasakan suatu kebenaran sejati, bahkan dapat merasakan keberadaan dan kenyataan Allah. Semua kita punya nurani dan pernah merasakan apa yang dinamakan dengan kebenaran yang datang dari nurani, suatu kebenaran yang tak terpengaruh oleh akal dan nafsu manusia. Kita sering kali merasakan kedekatan dengan Allah, dan rasa kedekatan itu mustahil bagi akal untuk mengungkapnya dalam bentuk kata atau kalimat. Atau dengan kata lain, nuranilah yang memiliki potensi untuk menyakini keberadaan Allah dan menyakini akan kenyataan-Nya, bukan akal. Akal hanya akan mengiyakan apa yang dirasakan oleh nurani, seperti halnya akal hanya akan membenarkan apa yang dirasakan oleh jasmani dan ruhani kita, tetapi tidak akan mampu untuk memikirkan apalagi menjelaskannya.

Dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa sesungguhnya hakikat diri manusia itu adalah sama dengan angka NOL. Angka nol itu tidak memiliki nilai walaupun dia ada. Manusia itu tidak memiliki apa-apa. Semua yang ada di dalam dirinya adalah ciptaan dan tiupan dari Allah. Keberadaan manusia adalah nol yang dapat merasakan keesaan Allah.

Wahai hamba-Ku!

Sesungguhnya jika engkau ingin merasakan Aku ada, maka tiadakan pengakuanmu terhadap dirimu, kemudian rasakanlah (kesyukuran) atas kepunyaan-Ku yang ada padamu, niscaya engkau tidak menemukan hakmu di dalam pengakuan atas kepemilikan daripada kata ‘Aku.’
(Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah, Inilah Aku, hlm. 108)

Materi “Dialog tentang Tuhan” di Masjid Baitul Ihsan, Bank Indonesia, tanggal 16 Desember 2011 atas kerjasama MMBI dan TICI.
( DR. Zubair Ahmad - majelisrabbani.org )


Previous
Next Post »