Kisah Haru Dibalik Aksi Damai 212 Yang Membuka Mata Hati

kisah haru aksi damai 212


Saya anggap orang yg maju dalam agama itu adalah yang berfikiran luas dan penuh toleransi, saya anggap tak perlulah terlalu fanatis akan sesuatu, tak perlu reaktif akan sesuatu, keep calm, be cool.. Janganlah sesekali dan ikut-ikutan jadi orang norak.. ikut kelompok jingkrang dan entah apalah itu namanya.

Saya tak ikut aksi bela agama ini itu. Kalian jangan usil, jangan pikir dengan kalian-ikut dan saya-tidak artinya kalian masuk syurga dan saya tidak..! Saya ini beragama lho, saya ikut berpuasa, saya bersedekah dan beramal.. Saya bantu orang-orang, bantu saudara-saudara saya juga,, jangan kalian tanya-tanya soal peran saya ke lingkungan, kalian lihat orang-orang respek pada saya, temanpun aku banyak.. tiap kotak sumbangan aku isi.

Saya masih heran, apa sih salah seorang Ahok..? Dia sudah bantu banyak orang, dia memang rada kasar tapi hatinya baik kok, saya hargai apa yang sudah dia buat bagi Jakarta.

Saya anggap aksi ini itu hanya soal politis karena kebetulan ada Pilkada. Saya tak mau terbawa arus seperti teman-teman kantor yang tiba-tiba juga mau ikut aksi, saya anggap itu berlebihan dan terlalu cari-cari sensasi.. paling juga mau selfie-selfie..


Sampai satu saat..

Sore ini dalam gerimis saat saya ada di jalan, dalam mobil menuju tempat miting, dalam alunan musik barat saya berpapasan dengan rombongan pejalan kaki, saya melambat, mereka berjalan tertib, barisannya panjang sekali, pakai baju putih-putih, rompi hitam dan hanya beralas sendal, muka mereka letih, tapi nyata kelihatan tidak ada paksaan sama sekali di wajah-wajah itu.. mereka tetap berjalan teratur, memberi jalan ke kendaraan yang mau melintas, tidak ada yang teriak, berlaku arogan dan aneh-aneh atau bawa aura mirip rombongan pengantar jenazah yang ugal-ugalan. Ini aneh, biasanya kalau sudah bertemu orang ramai-ramai di jalan, aromanya kita sudah paranoid, suasana panas dan penuh tanda tanya negatif.

Sore ini, di jalan aku merasa ada kedamaian yang kulihat dan kurasa melihat wajah-wajah dan baju putih mereka yang basah terkena gerimis.

Papasan berlalu, aku setel radio lain, ada berita, rombongan peserta aksi jalan kaki dari Ciamis dan kota-kota lain sudah memasuki kota, ada nama jalan yg mereka lalui.. Aku sambungkan semua informasi, ternyata yang aku berpapasan tadi adalah rombongan itu.. Aku tertegun.

Lama aku diam, otakku serasa terkunci, analisaku soal bagaimana orang beragama sibuk sekali mencari alasan. Tak kutemukan apa pun yang sesuai dengan pemikiranku. Apa yang membuat mereka rela melakukan itu semua..? Apa kira2..? aku makin sibuk berfikir.. Apa menurutku mereka itu berlebihan..? Rasanya tidak, aku melihat sendiri muka-muka ikhlas itu.. Apa mereka ada tujuan-tujuan politik..? Aku rasa tidak, kebanyakan orang sekarang mencapai tujuan bukan dengan cara-cara itu..
Apakah orang-orang dengan tujuan politik yang gerakkan mereka itu..? Aku hitung-hitung dari informasi, akan ada jutaan peserta aksi, berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk itu, kalau ini tujuan kelompok tertentu.. Angkanya fantastis, rasanya mustahil ada yang mau ongkosi karena nilainya sangatlah besar.

Aku 'dalam' berfikir, di mobil, masih dalam gerimis, kembali berpapasan dengan kelompok lain, berbaju putih juga, basah kuyup juga.. Terlihat di pinggir-pinggir jalan, anak-anak sekolah membagikan minuman air mineral ukuran gelas, sedikit kue-kue warung ke mereka, sepertinya itu dari uang jajan mereka yg tak seberapa.

Aku terdiam makin dalam.. Ya Allah, kenapa aku begitu buruk berfikir selama ini..?
Kenapa hanya hal-hal jelek yg mau aku lihat tentang agamaku.. Kenapa dengan cara pandangku soal agamaku..? Aku mampir ke masjid, mau sholat Ashar.. aku lihat sendal-sendal jepit lusuh banyak sekali berbaris.. aku ambil wudhu. Kembali di teras, kali ini aku bertemu rombongan tadi, mungkin yg tercecer. Muka mereka lelah sekali, mereka duduk, ada yang minum, ada yang rebahan, dan lebih banyak yang lagi baca Qur'an.. Hmmm..

Aku sholat sendiri,. Tak lama punggung ku dicolek dari belakang, tanda minta aku jadi imam, aku cium aroma tubuh-tubuh dan baju basah dari belakang.. Aku takbir sujud, ada lagi yang mencolek. Nahh.. Kali ini hatiku yang dicolek. Entah kenapa, hatiku bergetar sekali, aku sujud cukup lama, mereka juga diam.. Aku bangkit duduk, aku tak sadar ada air bening mengalir dari sudut mataku.

Ya Allah.. Aku tak pantas jadi imam mereka. Aku belum sehebat, setulus dan seteguh mereka.. Bagiku agama hanya hal-hal manis, tentang hidup indah, tentang toleransi, humanis, pluralis, penuh gaya, in style.. bla bla bla.. Walau ada hinaan ke agamaku aku harus tetap elegan, berfikiran terbuka.. Kenapa Kau pertemukan mereka dan aku hari ini ya Allah, kenapa Kau jadikan aku imam sholat mereka..? Apa yang hendak Kau sampaikan secara pribadi ke aku..?

Hanya 3 raka'at aku imami mereka. Hatiku luluh ya Allah.. Mataku panas nahan haru.. Mereka colek lagi punggungku, ada anak kecil usia belasan cium tanganku, mukanya kuyu tapi tetap senyum.. agak malu-malu aku peluk dia, dadaku bergetar tercium bau keringatnya, dan itu tak bau sama sekali.. Ini bisa jadi dia anakku juga. Apa yang telah kuajarkan anakku soal Islam..? Apakah dia levelnya sekelas anak kecil ini..? Gerimis saja aku suruh anakku berteduh.. dia demam sedikit aku panik..
Aku nangis dalam hati.. di baju putihnya ada tulisan nama sekolah, SMP Ciamis.. Ratusan kilo dari sini.. Kakinya bengkak karena berjalan sejak dari rumah. Dia cerita bapaknya tak bisa ikut karena sakit, dan hanya hidup dari membecak, bapaknya mau bawa becak ke Jakarta bantu nanti kalau ada yang capek, tapi dia larang..

Aku dipermalukan berulang-ulang di masjid ini.. Aku sudah tak kuat, ya Allah..
Mereka bangkit, ambil tas-tas dan kresek putih dari sudut masjid, kembali berjalan, meninggalkan aku sendirian di masjid, rasa-rasanya melihat punggung-punggung putih itu hilang dari pagar masjid, aku seperti sudah ditinggal mereka yang menuju syurga.

Kali ini aku yg norak, aku sujud, lalu aku sholat sunat dua rakaat, air mataku keluar lagi.. kali ini cukup banyak, untung lagi sendirian..

Sudah jam 5an, lama aku di masjid, serasa terkunci tubuhku di sini.. miting dengan klien sepertinya batal.. aku mikir lagi soal ke Islamanku, soal komitmenku ke Allah, Allah yang telah ciptakan aku, yang memberi ibu bapakku rejeki, sampai aku dewasa dan bangga seperti hari ini.. dimana posisi pembelaanku ke agamaku hari ini..? Ada dimana..? Imanku sudah aku buat nyasar di mana..?
Aku naik ke mobil, aku mikir lagi. Kali ini tanpa rasa curiga, kurasa ada sumbat besar yg telah lepas dalam benakku selama ini.. Ada satu kata.. Sederhana sekali tanpa bumbu-bumbu.. Ikhlas dalam bela agama itu memamg nyata ada.

Aku mampir di Minimarket, kali ini juga makin ikhlas, makin mantap.. Aku beli beberapa dus air mineral, makanan kering, isi dompet aku habiskan penuh emosional.

Ini kebangganku yang pertama dalam hidup saat beramal, aku bahagia sekali.. Ya Allah ijinkan aku kembali ke jalanMu yg lurus, yang lapang, penuh kepasrahan dan kebersihan hati..
Ya Allah ijinkan aku besok ikut Shalat Jum'at dan berdoa bersama saudara-saudaraku yang sebenarnya.. Orang-orang yang sangat ikhlas membela Mu..

Besok, tak ada jarak mereka denganMu ya Allah.. Aku juga mau begitu, ada di antara mereka, anak kecil yang basah kuyup hari ini.. tak ada penghargaan dari manusia yang kuharap, hanya ingin Kau terima sujudku.. Mohon Kau terima dengan sangat.. Bismilahirahmanirahiim..

(1 Desember 2016 , Diceriterakan oleh Joni A Koto, Arsitek, Urban planner.. alumni ITB 93)


Previous
Next Post »